Berakit Rakit Dahulu Berenang Kemudian, Petani yang Tanam, Tengkulak yang Panen Kemudian!!!! Nasib Petani Tak Berdaya!! Mana Penguasa?

Loading...

Petani tidak punya kuasa terkait naik-turunnya harga gabah. Permainan harga oleh tengkulak dianggap biasa. Berikut liputan wartawan Solopos, Bony Eko Wicaksono.

Sejumlah orang hilir mudik di antara gunungan gabah di pelataran rumah di Mojolaban, Sukoharjo. Mereka membawa garu untuk meratakan gabah. Gabah yang dijemur siang itu hasil panen raya padi di beberapa desa di Mojolaban pada masa tanam (MT) I.
Hasil gambar untuk petani yang tanam tengkulak yang panen
Tengkulak berkeliling ke sawah-sawah milik petani saat masa panen. Mereka membeli hasil panen padi dan mematok harga gabah kering di atas harga pembelian pemerintah (HPP).
"Tak hanya di Mojolaban, saya juga berkeliling ke Sukoharjo dan Nguter untuk mengumpulkan gabah hasil panen petani," kata seorang bandar gabah asal Mojolaban, Giyamo, saat ditemui Espos di Mojolaban, Selasa (22/3).

Tengkulak berkuasa memainkan harga gabah saat panen. Harga gabah kering panen kualitas A dibanderol Rp3.900/kg. Sementara harga gabah kering panen kualitas B dan C dipatok Rp3.800/kg dan Rp3.700/kg. Gabah kualitas A mempunyai kadar serapan air lebih sedikit dibanding gabah kualitas B dan C. Gabah yang dibeli Perum Bulog sesuai HPP yakni Rp3.700/kg.

Para petani menjual gabah hasil panen langsung ke tengkulak yang berkeliling di sawah-sawah. Tak ada petani yang membawa gabah untuk disimpan dan dikeringkan di rumah. "Selisih harga gabah yang saya beli dengan Bulog Rpl00/kg-Rp200/kg. Namun kalau dikalikan hasil panen yang berton-ton bakal signifikan," tutur dia.

Perputaran uang tengkulak yang membeli gabah dari petani bisa mencapai Rp50 juta/hari. Giyamo bisa membeli gabah petani lebih dari 10 ton/hari. Dia juga memberdayakan penebas dengan memberi modal untuk membeli gabah hasil panen para petani.

Minimnya serapan gabah yang masuk Gudang Bulog dipengaruhi beberapa hal. Selain HPP yang murah, para petani harus menanggung biaya
ongkos angkut gabah dari sawah menuju Gudang Bulog.

Pernyataan senada diungkapkan bandar gabah lainnya asal Kecamatan Polokarto, Sutar. Dia bisa mengangkut gabah antara 7 ton-8 ton/hari. Setiap hari, ia merogoh kocek di atas Rp30 juta untuk membeli gabah petani di sawah-sawah. Gabah petani lantas dikeringkan selama beberapa hari dan dijual lagi kepada pengusaha beras di Jawa Tengah maupun Jawa Timur.

Uang Panjar

Serbuan para tengkulak ke sawah-sawah saat panen mengakibatkan petani tak memiliki daya tawar. Petani yang butuh uang langsung menerima uang panjar dari tengkulak tanpa ada tawar menawar. Mereka percaya gabah yang dibeli tengkulak bakal menyesuaikan harga pasar di wilayahnya.

Biasanya pada masa tanam I petani jarang membawa gabah hasil panen ke rumah untuk dikeringkan. Gabah hasil panen dibawa pulang ke rumah pada masa tanam III yang digunakan untuk cadangan makanan selama musim kemarau.

"Ada juga petani yang terlebih dahulu melakukan tawar-menawar namun keputusan harga tetap di tengkulak. Petani langsung mengambil uang panjar jika ditawari tengkulak," kata seorang petani asal Desa Bengkonang, Mojolaban, Surip, 45.

Kondisi serupa terjadi di Wonogiri. Bupati Wonogiri Joko Sutopo saat ditemui Espos belum lama ini mengatakan kehadiran para tengkulak tidak bisa dicegah.

"Kita [semua pihak) harus berani mengakui ini. Pemerintah belum bisa hadir untuk mengatasinya. Saya bukan orang yang suka manis. Saat ini faktanya kita belum bisa berbuat banyak," kata politikus PDIP itu.

Dia melanjutkan kondisi tersebut secara otomatis berdampak pada tidak membaiknya kesejahteraan petani.

Kasi Pengembangan Bidang Tanaman Pangan, Totok Puji Raharjo, saat ditemui Espos menyatakan hanya sebagian kecil petani yang menjual padi kepada tengkulak. Dia menyatakan sebagian besar petani menggunakan hasil panennya untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Dia memperkirakan kurang dari 20 persen dari total produksi padi pada 2015, yakni 425.352 ton, yang dijual kepada tengkulak.

Serapan gabah petani pada masa tanam (MT) I padi di wilayah Soloraya yang masuk ke Gudang Bulog baru mencapai sekitar lima persen. Kepala Seksi (Kasi) Pelayanan Publik Bulog Subdivre III/ Surakarta, Yoyo, saat dihubungi Espos, menyatakan tak semua gabah hasil panen petani bisa diserap Bulog.

"Misalnya, air gabah kering [GKP] tak boleh lebih dari 25 persen dan bobot hampa kotor gabah tak boleh lebih dari 10 persen. Standar kualitas itu menjadi acuan utama Bulog membeli gabah hasil panen petani," kata dia.

(Rudi Hartono)

Sumber : Solo Post Edisi 23 Maret 2016 Halaman 1 dan 2

Artikel Terkait