Cara Budidaya Tanaman Pare Yang Baik dan Hasil Melimpah

Loading...

Tanaman pare merupakan tanaman setahun yang bersifat merambat, tanaman ini merambat dengan alat pemegang yang berbentuk lilin. Batangnya kecil dan panjang tetapi lebih kuat daripada mentimun, daunnya bercagap menjari dan beraroma spesifik dan tidak sedap sedangkan buahnya jika sudah tua berwarna kuning dan rasanya pahit. Pare  banyak mengandung Vitamin A, Vitamin B dan Vitamin C akan tetapi tidak semua orang gemar buah ini karena rasa buahnya yang pahit. Namun demikian tanaman ini mempunyai arti penting bagi perkembangan sosial ekonomi khususnya peningkatan pendapatan petani, perbaikan gizi masyarakat dan perluasan kesempatan kerja.
Tanaman Pare


Dalam rangka pengembangan tanaman pare dan tantangannya dalam menghadapi era globalisasi dan perdagangan bebas (MEA) maka tuntutan konsumen terhadap standar mutu produk dan jaminan keamanan sangat diperlukan. Untuk mengantisipasi hal tersebut maka perlu adanya informasi teknis budidaya tanaman pare sesuai dengan Standar Prosedur Oprasional (SPO).

Teknis Budidaya 

Pemilihan Bibit

Bibit Pare
Bibit pare diambil dari buah pare yang telah tua dan menguning di pohonnya, pemilihan bibit sebaiknya memperhatikan silsilah induknya. Ambil biji pare dari buah yang sehat, bentuknya bagus. Setelah dipetik, buka kulit pare tersebut dan ambil bijinya. Jemur biji diterik matahari selama 1hari  dan angkat, kemudian letakkan pada wadah dan tempatkan di area yang teduh.

Jika anda tidak mau repot, bibit pare dapat dibeli di kios-kios pertanian. Lihat tanggal kadaluarsanya, pilih bibit yang memiliki tanggal kadaluarsa masih lama. Dan pastikan kemasan bibit masih utuh dan tidak ada bolong-bolong sekecil apapun. Karena dikhawatirkan ada semut atau kutu yang memakan biji pare yang ada dalam kemasan. 

Persiapan Lahan 

  • Lahan dibersihkan dari sisa tanaman dan sampah.
  • Penggemburan lahan dilakukan sampai kedalaman 20 s/d 30 cm, lahan dibiarkan/dikering anginkan selama 5 s/d 7 hari.
  • Bila perlu dilakukan pemberian kapur dengan dosis yang disesuaikan dengan derajat keasaman (pH) tanah setempat. Kapur yang telah dihaluskan ditaburkan ke bedengan kemudian diaduk agar merata dengan tanah (pemberian kapur sebaiknya 2 s/d 4 minggu sebelum tanam).
Penanaman

Ukuran Lubang Tanam
  • Buat lubang tanam dengan ukuran lebar 30 cm, dalam 20 cm,  jarak antar lubang 60 cm dan jarak antar baris 200 cm.
  • Benih/biji pare langsung ditanam pada lubang tanam sebanyak 2-3 biji/lubang.
  • Setelah selesai penanaman biji/benih disiram agar biji/benih dapat berkecambah dengan baik.
  • Tingkat kelembapan tanah perlu juga diperhatikan.
Pemupukan

  • Pupuk kandang/organik (pupuk dasar) diberikan setelah pengolahan tanah dengan cara pembuatan lubang tanam, pupuk kandang diberikan sebanyak 1 kg/lubang tanam.
  • Pemupukan susulan I 10 hari setelah tanam (HST) berupa pupuk NPK (15:15:15) konsentrasi 15/m2.
  • Pemupukan susulan II  20 HST berupa pupuk NPK (15:15:15) konsentrasi 15/m2.
  • Pemupukan sususlan III  30 HST berupa pupuk NPK (15:15:15) konsentrasi 15/m2.
  • Apabila hujan deras setelah pemberian pupuk maka pemupukan ditambah setengah dosis.
 Pemeliharaan

  • Amati tanaman, bila tanaman terlalu rapat perlu dilakukan penjarangan dengan cara buang tanaman yang ukurannya tidak sesuai (kecil/mengkerut dll).
  • Setelah tanaman berumur 7 hari, amati tanaman bila rusak atau menunjukan gejala kerusakan dibuang saja.
  • Apabila bibit masih ada sisa penjarangan dapat ditanam kembali.
  • Khusus pare belut sebaiknya buah muda digantungi kayu kecil atau sabut kelapa (beban) dimana beban tersebut dikaitkan pada ujung buah agar buahnya menjadi lurus.

Pengendalian Hama dan Penyakit

Beberapa hama yang sering menyerang tanaman pare : 

Hama lembing atau oteng-oteng (Epilachma sparsa)

  • Hama ini bulat runcing, warna merah dengan bintik-bintik hitam sebanyak 12-26 buah. Hama ini menyerang daun dan serangan yang parah daun pergi, hanya menyisakan tulang daun.
  • Pengendaliannaya antara cara lain dapat dilakukan dengan mengambil telur, larva atau lembing, ditangkap lalu dimatikan. Bisa juga dilakukan dengan rotasi tanaman. Jika sudah parah bisa diterapkan insectisida bahan aktif carbaryl (Sevin 85 SP, Truper 3 GR).

Penyakit embun bulu (Pseudoperenospora cubensis)

  • Gejala yang terlihat ketika daun bagian atas bintik-bintik kuning, sedangkan daun yang lebih rendah bulu ungu. 
  • Tindakan pencegahan adalah untuk menjaga kondisi tanah yang tidak terlalu lembab. Jika sudah parah bisa diterapkan fungisida dengan bahan aktif propineb (Trivia 73 WP), mandipropamid (Revus 250 SC), metalaksil (Metalax 35 SD).

Lalat buah (Dacus Cucurbitae sp)

  • Buah pare serangan lalat dengan menempatkan telur mereka dalam buah. Setelah menetas, ulat makan buah sehingga menjadi rusak. Daging buah tidak bisa dimakan karena busuk dan berair dengan ratusan belatung. Penampilan luar dari daging buah sehat tetapi setelah penampilan terbuka daging dipenuhi belatung.Ketika menyerang batang, maka batang akan membengkak seperti bisul.  
  • Pencegahan hama ini dilakukan dengan pembungkusan buah muda menggunakan kertas atau daun pisang kering, bisa juga menggunakan perangkap serangga yang ditempatkan di sekitar tanaman pare, sehingga lalat buah yang ada di sekitar dapat ditangkap dan mati di daerah tangkapan
Pembungkusan pare muda



Pemasangan perangkap serangga










 Panen

Buah Pare
  • Panen sebaiknya dilakukan pada sore hari karena cahaya matahari tidak terlalu panas.
  • Penyemprotan pestisida (apabila terkena hama dluar ambang kendali) sudah dihentikan 1 minggu sebelum panen tergantung kecepatan daya urai sebaiknya gunakan pestisida yang terurai 4-5 hari.
  • Panen pertama dilakukan terhadap pare yang sudah benar-benar siap panen, yaitu berdasarkan umur tanaman.
  • Pemotongan tangkai pare dilakukan secara hati-hati agar pare tidak rusak
  • Pare yang telah dipanen dikumpulkan di keranjang dan diletakan ditempat yang teduh.
  • Pare baru dapat dipanen berumur 2,5 bulan dan tiap batang menghasilkan rata-rata 30 buah.
 Semoga Bermanfaat ....


Artikel Terkait