Panduan Cara Pengelolaan Hara Dalam Budidaya Sayuran Organik

Loading...

Permintaan produk pertanian organik diseluruh dunia tumbuh pesat sekitar 20 % per tahun, akibat adanya trend back to nature dinegara maju. Di indonesia budidaya pertanian organik merupakan sesuatu hal yang relatif baru dan berkembang baru sekitar 5 -6 tahun lalu. Namun demikian perkembangannya sudah cukup pesat terutama di kota – kota besar yang pada umumnya merupakan konsumen utama produk pangan organik. Standar Nasional Indonesia tentang pertanian organik telah disusn dalam SNI 01-672-2002, yang berisi panduan tentang cara – cara budidaya pangan organik untuk tanaman pangan dan ternak, pengemasan, pelabelan dan sertifikasinya.



Karakteristik Teknologi 

Sistem pertanian organik didefinisikan sebagai “kegiatan usaha tani secara menyeluruh sejak proses produksi (pra – panen) sampai proses pengolahan hasil (pasca – panen)  yang bersifat ramah lingkungan dan dikelola secara alami (tanpa penggunaan bahan kimia sintetis dan rekayasa genetika), sehingga menghasilkan produk yang sehat dan bergizi” (IFOAM, 2002). Untuk mencapai hasil maksimal, sistem budidaya pertanian organik diterapkan melalui teknik rotasi tanaman, pemanfaatan residu tanaman, pupuk kandang, tanaman legum, pupuk hijau, limbah organik dari luar kebun, pengolahan mekanis, pemanfaatan batuan mineral serta aspek perlindungan tanaman cara biologis untuk mengelola produktivitas lahan.

Prinsip pertanian organik 
 1.    Lahan yang digunakan bebas dari cemaran bahan agrokimia dari pupuk dan pestisida. Terdapat dua pilihan lahan : (1) lahan pertanian yang baru dibuka, atau (2) lahan pertanian intensif yang telah dikonversi menjadi lahan pertanian organik. Lama masa konversi tergantung sejarah penggunaan lahan, pupuk, pestisida dan jenis tanaman.
2.    Menghindari benih /bibit hasil rekayasa genetika atau genetically modified Organism (GMO).sebaiknya benih berasal dari kebun pertanian organik.
3.    Menghindari penggunaan pupuk kimia sintesis dan zat pengatur tumbuh. Peningkatan kesuburan tanah dilakukan melalui penambahan pupuk organik, sisa tanaman, pupuk alam, dan rotasi dengan tanaman legum.
4.    Menghindari penggunaan pestisida kimia sintesis. Pengendalian hama, penyakit, dan gulma dilakukan secara manual, biopestisida, agen hama dan rotasi tanaman.
5.    Menghindari penggunaan hormon tumbuh dan bahan aditif sintetik pada pakan ternak dan secara tidak langsung pada pupuk kandang.
6.    Penanganan pasca dan pengaweta bahan pangan menggunakan cara – cara yang alami.

Teknik Pengelolaan Hara Untuk Budidaya Sayuran Organik

Teknik pengelolaannya dilakukan melalui daur ulang hara tanaman secara alamiah  dalam peningkatan kesuburan biologis, fisik dan kimia tanah. Teknologi tersebut dengan menerapkan pengembalian hara makro dan mikro yang terangkut panen dengan menambahkan pupuk organik dan sisa tanaman dari berbagai sumber bahan organik secara periodik kedalam tanah, baik dalam bentuk pupuk hijau maupun kompos. Pupuk organik dalam sistem pertanian organik dianjurkan berasal dari bahan – bahan organik seperti kotoran ternak yang dikomposkan. Kotoran ternak yang digunakan tidak boleh berasal dari ternak yang dikelola dalam Factory Farming.


Serasah sisa tanaman legum, pangkasan tanaman pagar, sampah organik dari pasar dan hijauan titonia bisa digunakan sebagai bahan pupuk organik. Pupuk organik berupa kombinasi pupuk kandang dan hijauan titonia dengan takaran 20 dan 30 Kg/bedeng (1 x 8 m), dapat memenuhi kebutuhan hara sayuran organik. Penggunaan hijauan titonia sebagai pupuk organik dapat direkomendasikan karena kandungan hara P dan K yang relatif tinggi , mudah tumbuh dan banyak disekitar lokasi lahan budidaya organik (Tabel 1).
Tabel 1. Kadar Hara Total Beberapa Sumber

Kompos Pupuk OrganikCNPKCaMgC/N
Pukan Kambing36,23,80,463,262,510,7310,00
Pukan Ayam26,61,41,202,892,540,5618,00
Pukan Sapi47,03,51,015,922,961,3413,00
Sisa Tanaman11,51,40,343,111,800,558,00
Hijauan Titonia18,22,00,465,112,400,609,00
Hijauan Kirinyu30,02,70,623,733,840,7411,00

Penanaman tanaman legum sebagai penedia hara N bagi tanaman, melalui pengikatan nitrogen bebas diudara oleh bakteri rhizobium yang berada dalam nodul akar tanaman. Tanaman legum ditata sebagai tanaman pagar (hedgerow) atau tanaman penutup tanah bersama tanaman utama secara multikultur atau rotasi. Menanam tanaman pagar atau tanaman inang yang berfungsi sebagai perangkap peredator hama.

Teknologi pertanian organik hendaknya mengintegrasikan ternak ayam, kambing, atau sapi dalam kebun oganik kotoran hewan digunakan sebagai sumber pupuk organik. Dalam petanian organik juga dapat menambahan bahan amelioran alami yang diperbolehkan dalam pesyaratan seperti kapur, Fosfat alam, bila terjadi kahat hara Ca dan P pada tanah yang tidak dapat diatasi dengan penambahan pupuk organik saja. Atau dengan pengkayaan pupuk organik dengan beberapa bahan mineral seperti dolomit, kapur dan Fosfat alam untuk meingkatkan jumlah dan jenis kadar hara dalam pupuk organik.

Teknik budidaya sayuran organik sebagai berikut :
1.    Tanaman ditanam pada bedengan berukuran 1 x (  - 10 )  dan tinggi 5 - 10 cm
2. Mengatur dan memilih jenis tanaman sayuranan legum yang sesuai untuk sistem tumpang sari atau multikultur seperti lobak, bawang daun dan kacang tanah. Mengatur rotasi tanaman sayuran dengan tanaman legum dalam setiap musim tanam.
3.    Mengembalikan sisa panen/serasah tanaman ke dalam tanah dalam bentuk segar dan kompos.
4.  Menanam tanaman yang berfungsi untuk pengendalian hama dan penyakit seperti kenikir, kemangi, kacang babi, tephrosia, lavender, dan mimba diantara bedengan tanaman sayur dan menjaga kebersihan areal tanaman

    Somoga Bermanfaat . . .

    Artikel Terkait